Festival Danau Sentani, Saat Keindahan Alam Berpadu Kekayaan Budaya

Selain Raja Ampat, Papua juga memiliki keindahan alam lainnya, yaitu Danau Sentani. Danau Sentani merupakan danau terbesar di Papua dengan luas sekitar 9360 hektar dan berada di antara pegunungan Cyclops yang tak lain adalah sebuah pegunungan vulkanik.

Danau Sentani merupakan wilayah perairan yang berisi material lumpur yang berpasir atau sering disebut humus. Di permukaan airnya terkadang ditumbuhi tanaman sagu dan pandan. Di tepi danau ini terdapat sekitar 24 Desa plus 21 pulau-pulau kecil di tengah danau.

Danau ini sangat indah, tak kalah dengan pemandangan danau lain yang ada di Indonesia, seperti misalnya Danau Toba di Sumatera atau Danau Bedugul di Bali. jika Anda beruntung, Anda dapat melihat burung-burung bangau di tengah danau dan burung elang yang terlihat terbang mondar-mandir menyambar ikan yang hidup di danau.

Bagi yang hobi diving, para diver dapat melihat indahnya 30 jenis ikan yang hidup danau. Bahkan 4 jenis ikan merupakan ikan endemik, yaitu ikan gabus danau sentani (Oxyeleotris heterodon), Ikan Pelangi Sentani (Chilatherina sentaniensis), Ikan Pelangi Merah (Glossolepis incisus) dan Hiu Gergaji (Pristis microdon).

Namun hal yang paling menarik di Danau Sentani adalah saat Festival Danau Sentani (FDS) diselenggarakan. Saat penyelenggraan FDS inilah saat dimana keindahan alam Papua berpadu dengan kekayaan budaya Papua, amazing. Saya kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkan itu.

FDS diselenggarakan secara rutin satu tahun sekali dan padan tahun 2014 merupakan FDS yang ke-VII. FDS sendiri bertujuan untuk menarik wisatawan baik asing maupun domestic. Festival ini menampilkan unsur-unsur budaya asli Papua baik tarian, upacara adat, kerajinan tangan, kuliner maupun atraksi budaya.

Salah satu atraksi rutin yang dinanti dalam FDS adalah Tari Isosolo yang dilakukan di atas perahu serta tari Gema Tifa Harmoni Kehidupan. Tak ketinggalan juga tarian-tarian tradisional asli Papua lainnya, yang tidak dapat ditemukan di tempat lain selain di Danau Sentani.

Tari Isosolo
Isosolo adalah salah satu budaya dari masyarakat yang mendiami tepian Danau Sentani. Merupakan suatu tarian magis dan semi kolosal oleh masyarakat suku Sentani dengan mempersembahkan hewan buaya dalam suatu maksud dan alur cerira akan kehidupan di Danau Sentani.

Tari IsosoloIsosolo terdiri dari dua kata yaitu Iso dan Solo atau Holo. Iso artinya bersukacita dan menari mengungkapkan perasaan hati, sedangkan Holo atau solo berarti kelompok atau kawanan dari semua kelompok umur baik anak-anak, ibu-ibu atau orang dewasa laki-laki yang menari.

Isosolo berarti kelompok orang yang menari dengan sukacita mengungkapkan perasaan hati. Isosolo dilakukan di atas gabungan beberapa perahu dan di pelataran di darat yang disebut Yau. Kegiatan ini dilakukan hanya untuk menghormati Ondofolo (kepala suku) yang satu kepada Ondofolo yang lain.

Ketika hendak ke kampung yang lain harus mendapat restu dari Ondofolo yang menguasai wilayah itu. Antara kampung satu dengan kampung yang lain diatur oleh tatanan adat yang kuat. Alasan Isosolo dilakukan karena ada keberhasilan, kemakmuran dan panen yang melimpah. Semuanya ini hanya menunjukkan kebesaran Ondofolo.

Tari Gema Tifa
Satu lagi tarian kolosal yang dipentaskan pada FDS ke-VII, yaitu tari Gema Tifa Harmoni Kehidupan. Tarian ini dibawakan oleh 500 orang, tari ini menceritakan tentang semua nilai-nilai dan kebesaran yang dimiliki oleh seorang Ondoafi (kepala suku) dalam bentuk tarian yang dihiasai dengan tifa ukiran atau anyaman yang dikenakan pada kepala, leher dan kaki serta ungkapan-ungkapan atau ucapan dalam bahasa yang pada intinya menceritakan kekuasaan sang Ondoafi.

Beberapa atribut yang dikenakan oleh penari pada bagian tubuh dan alat musiknya misalnya tifa memiliki nilai budaya yang sangat tinggi dan sakral sehingga harus mengikuti komando yang dituakan dan juga dan tentu tidak sembarang orang.

Tifa merupakan alat musik tradisional dan adalah simbol jati diri masyarakat Papua khususnya yang mendiami kawasan Danau Sentani. Tifa yang ditabuhkan mengandung beberapa makna; ada tifa untuk kehidupan, kematian, dan kemakmuran. Untuk pelaksanaan FDS Ke-VII ini diwarnai dengan tifa kehidupan.

Tarian gema tifa harmoni kehidupan, tidak sembarang dibawakan tetapi hanya pada hari-hari khusus di kampung-kampung dan dalam acara seperti ini. Untuk membawakannya pun harus mendapat izin dan restu dari Ondoafi, apabila ondoafi tidak mengijinkan maka bayaran berapaun tidak akan dibawakan.

Tifa selalu berada dirumah adat di setiap kampung yang mendiami tepian danau Sentani. Tifa sangat berhubungan erat dengan pelataran adat, dimainkan pada saat pesta sukacita dan dapat pula dimainkan pada saat pesta dukacita atau kematian sang ondofolo.***

Sumber: Denmas Deni

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *